Bagaimanakah seharusnya kita mendidik dan mengajar? 1

Mengajar bukanlah pekerjaan mudah. Seorang guru harus membekali dirinya dan mempersiapkan segala sesuatunya dengan sebaik mungkin agar pembelajaran bisa berjalan optimal. By: Ayah Ave/Anang Nurkholis

Bagaimanakah seharusnya kita mendidik dan mengajar? 2

Mengajar bukanlah pekerjaan mudah. Seorang guru harus membekali dirinya dan mempersiapkan segala sesuatunya dengan sebaik mungkin agar pembelajaran bisa berjalan optimal. By: Ayah Ave/Anang Nurkholis

Bagaimanakah seharusnya kita mendidik dan mengajar? 3

Mengajar bukanlah pekerjaan mudah. Seorang guru harus membekali dirinya dan mempersiapkan segala sesuatunya dengan sebaik mungkin agar pembelajaran bisa berjalan optimal. By: Ayah Ave/Anang Nurkholis

Bagaimanakah seharusnya kita mendidik dan mengajar? 4

Mengajar bukanlah pekerjaan mudah. Seorang guru harus membekali dirinya dan mempersiapkan segala sesuatunya dengan sebaik mungkin agar pembelajaran bisa berjalan optimal. By: Ayah Ave/Anang Nurkholis

Bagaimanakah seharusnya kita mendidik dan mengajar? 5

Mengajar bukanlah pekerjaan mudah. Seorang guru harus membekali dirinya dan mempersiapkan segala sesuatunya dengan sebaik mungkin agar pembelajaran bisa berjalan optimal. By: Ayah Ave/Anang Nurkholis

Showing posts with label RESENSI. Show all posts
Showing posts with label RESENSI. Show all posts

Monday, November 21, 2011

Mendidik Anak ala Melly Kiong

Judul: Cara Kreatif Mendidik Anak Ala Melly Kiong
Penulis:  Melly Kiong
Cetakan:  Pertama, Januari 2010
Tebal:   xxiv + 118 halaman
Penerbit:  Progressio Publishing

Buku ini memberikan panduan praktis kepada orang tua untuk bekerja sama dengan anak-anaknya agar mereka kreatif, mampu menyelesaikan masalahnya sendiri, dan akhirnya membentuk self image positif. Saya percaya orang tua yang mempraktikkan isi buku ini akan berbahagia kala mendapatkan anak-anaknya menjadi manusia yang cerdas.” Munif Chatib (pakar Multiple Intelligence)


Kegagalan pendidikan anak di rumah, bukan semata-mata karena kurangnya kasih sayang orang tua pada anak melainkan karena kebanyakan orang tua tidak tahu caranya, terutama cara mendidik anak yang efektif , praktis dan efisien. Pengalaman mendidik putra-putranya selama 10 tahun yang sangat kreatif dituangkannya dalam buku ini dengan gamblang.
Dalam buku setebal 118 halaman ini, Melly mencoba berbagi tentang bagaimana cara kreatif membangun mental berusaha, menumbuhkan kepedulian pada sesama, binatang, dan lingkungan serta mendorong perbuatan baik, serta membuat suasana bersaudara yang rukun dan damai. Pada bagian akhir, dengan sangat kreatif Melly memberi contoh bagaimana mengapresiasi anak-anaknya serta mengingatkan hal-hal yang tidak baik dilakukan orang tua pada anak-anak di rumah.
Sesuai judulnya, kekuatan buku ini terletak pada kreativitas cara mendidik yang telah dilakukan Melly. Pembaca yang orang tua akan dimanjakan dengan contoh-contoh yang dapat dipraktikkan langsung dan kemudian akan menjadi terampil dalam menggali pesan-pesan moral dalam setiap aktivitas keseharian mendidik anak-anak di rumah. Melly juga meneladankan cara komunikasi yang hangat, seimbang, dan penuh pembelajaran dalam setiap dialog dalam mendidik anak-anaknya.
Memang, kunci pendidikan yang efektif salah satunya ada dalam komunikasi antara orang tua dan anak. Untuk hal sangat penting ini, buku ini menyajikannya dengan sangat unik yaitu dikemas dalam bentuk komik. Tentu saja hal ini akan sangat memudahkan pemahaman dan melekatkan pesan dengan kuat pada benak pembaca. Buku ini juga ditata letak dengan kreatif sehingga tidak akan membosankan walau topik-topik pendidikan keluarga yang ingin disampaikan tidak dapat dikatakan ringan. Dilengkapi dengan ilustrasi yang menarik serta foto-foto kegiatan pendidikan Melly, buku ini sangat tepat dijadikan pedoman pengasuhan di rumah.

Read More..

Sunday, November 20, 2011

Resensi Buku Negeri 5 Menara



Mengambil setting pesantren dan cerita awal keterpaksaan sang tokoh utama (Alif) membuat pembaca serasa masuk sekali di dalamnya. Karena disajikan dengan begitu hidup.

Cerita selanjutnya pun semakin menarik.. banyak sekali tausyiah2 keren yang tersebar di sepanjang cerita.. tapi tak lantas membuat pembaca merasa digurui.. semua mengalir dengan nyaman dan seperti masuk dalam kehidupan pesantren dengan segala suka dan dukanya, dengan semua kedisiplinan dan kesederhanaan.. dan yang paling mendasar dari semuanya adalah Man Jadda wajada.. siapa yang bersungguh2 dia akan berhasil. Tidak hanya dalam hal yang jangka panjang.. tapi juga dalam jangka pendek. Seperti  ketika mereka (beberapa tokoh dalam cerita) harus menjadi jasus atau mata-mata pesantren.  Intinya dalam setiap apapun yang qta lakukan, sekecil apapun itu.. bersungguh2lah.. maka akan sukses.. insyaAllah.. :)

Dan bagian-bagian yang membuat pembaca tersentuh sampai airmata meluruh
 ada di halaman 148.. saat kerinduan Alif menyeruak pada sosok amaknya. Deskripsi Alif tentang ibunya pun pas sekali.. “Di saat hatiku rusuh dan nyeri, dia selalu datang dengan sepotong senyum yang sanggup merawat hatiku yang buncah’.. seperti itulah mama buat sy..

Juga pada sebuah nasehat singkat “surga itu dekat.. sangat dekat.. dia di bawah telapak kaki ibu”. Dan masih dalam konteks
birrul walidain.. yang ada di bagian tersingkapnya rahasia Baso. Baso yang begitu gigih ingin menghafal Al-Qur’an ternyata punya sebuah rahasia dan tujuan mulia. Demi kemulian kedua orangtuanya yang belum sempat ia lihat di dunia.

Seperti halnya Laskar Pelangi yang memunculkan sosok Aling yang membuat bagian sumringah.. di sini ditampilkan  dengan judul yang sangat menawan “nama yang bersenandung”. Sebuah  pilihan kata yang tidak biasa. Apalagi dengan mengaplikasikan prinsip Man Jadda wajada sehingga pungguk pun tak lagi merindukan bulan.. karena si pungguk telah berubah menjadi garuda yang terbang tinggi dan mendarat di bulan.

Jika dalam 5 cm terkenal dengan quote kerennya “lebih dari biasanya”.. maka yang  didapat di novel ini selain Man Jadda wajada tadi adalah Ajtahidu fauqa mustawal akhar. Berjuang di atas usaha orang lain. Dan juga semangat Alif waktu memaksa diri untuk belajar. Setiap ingin menyerah dan tidur, Alif melecut dirinya dengan kata2 “ayo satu halaman lagi.. satu kalimat lagi.. satu kata lagi..”..  ini bagian yang patut dipegangi para penuntut ilmu.
Setidaknya novel ini turut memberikan warna baru bagi bacaan berkualitas bergenre pendidikan yang lama dirindukan.  Lebih penting lagi, bahwa dalam menuntut ilmu, ada adab-adab yang harus diperhatikan. Ikhlas mendidik dan Ikhlas dididik. Keridhaan seorang guru akan mengiringi kesuksesan para muridnya.
Read More..