Bagaimanakah seharusnya kita mendidik dan mengajar? 1

Mengajar bukanlah pekerjaan mudah. Seorang guru harus membekali dirinya dan mempersiapkan segala sesuatunya dengan sebaik mungkin agar pembelajaran bisa berjalan optimal. By: Ayah Ave/Anang Nurkholis

Bagaimanakah seharusnya kita mendidik dan mengajar? 2

Mengajar bukanlah pekerjaan mudah. Seorang guru harus membekali dirinya dan mempersiapkan segala sesuatunya dengan sebaik mungkin agar pembelajaran bisa berjalan optimal. By: Ayah Ave/Anang Nurkholis

Bagaimanakah seharusnya kita mendidik dan mengajar? 3

Mengajar bukanlah pekerjaan mudah. Seorang guru harus membekali dirinya dan mempersiapkan segala sesuatunya dengan sebaik mungkin agar pembelajaran bisa berjalan optimal. By: Ayah Ave/Anang Nurkholis

Bagaimanakah seharusnya kita mendidik dan mengajar? 4

Mengajar bukanlah pekerjaan mudah. Seorang guru harus membekali dirinya dan mempersiapkan segala sesuatunya dengan sebaik mungkin agar pembelajaran bisa berjalan optimal. By: Ayah Ave/Anang Nurkholis

Bagaimanakah seharusnya kita mendidik dan mengajar? 5

Mengajar bukanlah pekerjaan mudah. Seorang guru harus membekali dirinya dan mempersiapkan segala sesuatunya dengan sebaik mungkin agar pembelajaran bisa berjalan optimal. By: Ayah Ave/Anang Nurkholis

Showing posts with label Islamic Parenting. Show all posts
Showing posts with label Islamic Parenting. Show all posts

Tuesday, December 20, 2011

Tanamkan Rasa Bertanggungjawab

Mengapa para koruptor selalu lari dan mencari alasan 'sakit' untuk menghindar dari ancaman hukum untuk mampertanggungjawabkan perbuatannya? Ah, saya kira anda semua sudah tahu jawabannya. Dari setiap kasus korupsi yang tidak berhasil selesai menggembirakan, dapat ditarik benang merah kegagalan salah satu elemen pendidikan kita. 
Dilihat dari sudut pendidikan, para koruptor tidaklah hanya tamatan Sekolah Dasar atau bahkan TK. Begitupun usia, tidaklah pantas jika tidak disebut sangat dewasa. Tapi mengapa mereka selalu 'lari' saat perbuatan itu tercium publik. 
Saya teringat kejadian beberapa waktu yang lalu, saat beberapa anak bermain di tempat saya. Salah satu dari mereka meminjam mobil-mobilan anak saya. Mobil-mobilan yang kebetulan mengeluarkan bunyi itupun dimainkannya. Dibunyikanlah terus hingga bunyinya 'parau'. Sampai kemudian mobil itu tidak berbunyi lagi (karena batrenya mungkin habis). Si anak tersebut merasa takut jika akan dipersalahkan. Dilemparlah mobil-mobilan itu pada salah satu temannya yang lain, seolah-olah temannya yang baru memegang itulah 'tersangka'nya. Ketika ada anak lain yang mencoba memainkan bunyi-bunyian mobil, tapi ternyata tidak keluar bunyi, si anak pertama tadi langsung menuduh teman yang ia lempari mobil-mobilan tadi seraya berkata, "Bukan sama aku rusaknya, lho!. Sama Si Anu itu". 
Terlihat betapa anak pertama yang memainkan mobil-mobilan itu merasa takut dimarahi, sehingga ia terpaksa harus bersandiwara, menghindari permasalahan yang menuntutnya bertanggungjawab. Sebenarnya saya tidak akan menuntut apapun. Tapi jika ia berterus terang bahwa ia yang tadi memainkan mobil-mobilan, kemudian bunyinya semakin lama semakin hilang, akan menambah respek saya terhadapnya. 
Pembaca budiman, apakah kiranya di lingkungan Anda juga berkembang fenomena seperti itu?. Jika ya, tentu dapat ditelusuri bahwa mereka yang bersalah akan selalu menghindari hukuman karena mereka memang dididik demikian.
Akarnya terpusat di keluarga, keluargalah yang seharusnya menanamkan nilai tanggungjawab sedemikian rupa sehingga anak bisa belajar bertanggungjawab. Ketika anak-anak bersalah, ajari mereka untuk mengakui bahwa ia melakukan kesalahan. Jangan dahulukan hukuman, berikanlah apresiasi jika ia mau mengakui perbuatannya. Hal ini untuk menumbuhkan rasa tanggungjawab dalam dirinya. Ketika sudah mengaku, coba berbincang dari hati ke hati dengan maksud menasehati agar ia tidak mengulangi perbuatan itu. Tanyakan kenapa ia harus berbuat seperti itu. Apa manfatnya. Jelaskan kerugiannya. Secara tersirat, katakan bahwa akan ada sebuah punishment jika sampai melakukan perbuatan salahnya lagi. Setelah itu dekaplah ananda, katakan bahwa sebagai orangtua, Anda sangat menyayanginya.
Segalanya mulai dari keluarga, komunitas terkecil dan yang paling dekat. Karena, jika setiap generasi terbekali karakter yang kuat, InsyaAllah akan kuatlah sendi-sendi bangsa. Sehingga, kelak ketika si anak dewasa dan memimpin negeri ini, ia akan menjadi pemimpin yang amanah. Ia tidak akan mencoba menghindari hukuman jika ia memang bersalah. Sebagaimana ungkapan Kong Hu Cu :
Jika ada kebajikan dalam hati, akan ada keindahan dalam watak
Jika ada keindahan dalam watak, akan ada keharmonisan keluarga
Jika ada keharmonisan keluarga, akan ada ketentraman dalam negara 
Jika ada ketentraman dalam negara, maka akan ada keamanan di dunia.

Ayahave'swife
Read More..

Monday, December 12, 2011

Mengatasi Anak Cengeng

Anak menangis itu biasa karena memang itu bahasa yang ia gunakan. Tapi kalu menangis terus menerus, pasti bikin bingung orangtuanya. Memang, tak jarang kita jumpai anak usia batita yang gampang sekali mengeluarkan air mata. Entah karena ditinggal pergi ibu, permintaannya tak dituruti, atau bahkan tanpa alasan yang jelas dan kuat (cuma kesenggol atau jatuh sedikit). 

Beberapa Faktor Penyebab Anak Cengeng
1. Merasa Tidak Aman
Perasaan aman, termasuk salah satu kebutuhan manusia yang utama. Orang yang merasa tidak aman memiliki ketakutan terhadap sesuatu hal.
Anak bisa merasa tak aman ketika ibu tidak berada di dekatnya, hal ini dikarenakan misalkan banyak orang di sekelilingnya yang tidak dikenal baik olehnya. Selain merasa takut dipermalukan, takut ditertawakan.
Misal jika jatuh dan banyak mata memandangnya dengan terkejut plus kasihan, biasanya kontan anak menangis bukan karena sakit tapi karena malu menjadi pusat perhatian.

2. Ibu Terlalu Melindungi
Ibu seperti ini terlalu cepat bereaksi menolong anaknya jika anaknya mengalami celaka sedikit saja. Anak menjadi terbiasa ditolong, tak pernah mengalami hal-hal berat dan sulit, dan tak memiliki kekuatan mental menghadapi saat-saat menegangkan. Karena mereka hanya mampu menangis ketika menghadapi suasana tegang.

Kalau saat anak jatuh, ibu tetap tenang, tidak menampakkan perasaan khawatir, anak akan menganggap bahwa peristiwa ’jatuh’ adalah hal yang biasa. Tetapi melihat kekhawatiran ibu yang berlebihan, tentu saja mereka akan belajar pula untuk khawatir dan selanjutnya menjadi takut untuk jatuh.
3. Mendapat Keuntungan dari Cengengnya
Ketika anak menemukan kenyataan bahwa ia memperoleh apa yang ia ingini dengan cara menangis, segera ia akan menggunakan senjata tangis itu untuk memperoleh apa saja yang ingin mereka dapatkan. Dan anak-anak pandai belajar dari pengalaman, sehingga kerap memilih untuk menangis agar ibu memenuhi permintaan mereka dengan cepat. Ada yang namanya hukum perilaku, kita akan mengulang perilaku yang memberikan keuntungan. Sepertinya si kecil melihat bahwa tiap kali dia menangis, maka dia mendapatkan permintaannya. Secara dia cerdas, tentunya dia bisa mengambil kesimpulan bahwa menangis adalah cara yang paling efektif untuk mendapatkan sesuatu yang menyenangkan! 

4. Sakit
Karena sakit, anak merasakan kondisi tubuhnya tidak nyaman. Makan tak enak, tidur pun tak nyenyak. Kondisi tubuhnya juga lemas dan lemah. Semua itu tak jarang membuat anak jadi cengeng, termasuk anak yang tadinya tidak cengeng. Belum lagi, sikap orang tua yang lebih protektif kepada anak sakit ternyata bisa menambah sikap cengeng itu.
Tak ada jalan selain menganggapnya wajar. Lakukan sesuatu yang bisa membuatnya merasa lebih enak. Misal, memutarkan film atau lagu kesukaannya, atau mendongeng kan cerita yang menarik.
5. Kelelahan
Sama halnya dengan sakit, kelelahan juga bisa membuat anak cengeng. Misalnya, sehabis bermain seharian. Jika orang dewasa bisa langsung mengungkapkan kondisi tubuhnya yang lelah, maka tidak demikian dengan anak. Apalagi orang tua belum tentu langsung tanggap. Akhirnya, anak mengungkapkan kondisinya dengan sikap rewel dan cengeng.
Kerewelan anak sebetulnya merupakan ungkapan bahwa ia menginginkan istirahat. Ajak anak ke tempat tidur lalu bacakan dongeng untuknya.
6. Butuh perhatian
Pada saat perhatian orang tua untuknya terpecah, anak akan merasa terbuang. Kondisi ini umumnya muncul saat ia baru saja memiliki adik yang menyita perhatian orang tua. Perasaan terbuang membuat anak rewel yang tak jarang disertai tindakan untuk memancing perhatian orang tua. Salah satunya mengganggu si adik.
Untuk mengatasinya, bersikaplah adil. Curahkan perhatian kita kepada si kakak, sama besarnya dengan kepada si adik. Tumbuhkan rasa sayang dan memiliki, misalnya dengan menyuruh kakak menjaga adiknya.
7. Kehilangan figur tersayang
Hal ini akan dialami jika orang tua meninggalkan anak dalam jangka waktu lama. Bagaimanapun, di usia ini anak sangat tergantung pada kehadiran figur yang dekat dengannya. Ketika figur itu pergi, ia merasa sangat kehilangan yang diungkapkannya dalam bentuk kecengengan.
Untuk mengatasinya, orang yang kebetulan dipercaya sebagai pengasuh harus menunjukkan sikap yang dapat membuatnya nyaman. Alihkan perhatiannya dari ingatan terhadap orang tua dengan aktivitas-aktivitas yang sangat menyenangkan. Umpamanya, mengajak ia bermain bersama teman-teman sebaya.
8. Terlalu banyak larangan
Terlalu banyak melarang akan membuat anak berang. Di usia ini perkembangan motoriknya sedang pesat. Setiap saat dia akan berlari-lari, menaiki kursi, maupun melompat-lompat. Nah, sikap orang tua yang selalu melarang, seperti "Awas, nanti jatuh," atau, "Jangan dipegang-pegang, nanti pecah", tidak akan membuatnya jadi penurut, justru sebaliknya, anak ingin berontak. "Asal tahu saja, saat itu anak ingin menunjukkan kemampuan yang dimilikinya," ungkap Nina. Jadi, orang tua justru harus memberikan dukungan atas perkembangan anaknya. Misal, saat ia berusaha memanjat kursi, dukunglah dengan cara tidak melarangnya, tapi menjaganya kalau-kalau ia terjatuh.
HINDARI PUKULAN
Kalau anak sudah cengeng, yang kemudian terjadi adalah orang tua jadi tak sabaran. Akibatnya, si anak dimarahi atau bahkan dicubit atau dipukul. Mendapat perlakuan seperti itu, tangis si anak bukannya reda malah semakin "seru". Menurut Romy, saat dicubit atau dipukul, "Anak mungkin bisa berhenti menangis. Tapi kali lain, jika tingkah laku itu muncul lagi dan ia mendapat cubitan atau pukulan lagi, tangis anak akan lebih keras lagi."
Dengan kata lain, ada peningkatan dalam perilaku menangisnya dan bukan malah mereda. Mengapa begitu? Sebab anak akan belajar, kalau dia menangis dan dicubit, maka tangisnya harus lebih keras. Akibatnya, orang tua memberinya hukuman yang lebih berat lagi. Cubitan atau pukulan orang tua menjadi semakin keras.
Dampak lainnya, anak akan meniru tindakan orang tua. Jangan lupa, salah satu cara anak belajar ialah dengan meniru. Nah, kalau ia menangis lalu ayah atau ibu memukulnya, maka ia pun akan melakukan hal sama terhadap orang lain. Entah itu temannya, pembantunya, adiknya, dan lainnya.
AJAK BICARA
Daripada harus memukul, mencubit, membentak, yang bisa berdampak buruk, sebaiknya ajak bicara. Tentu saja tak perlu mengajak anak berdiskusi panjang lebar seperti dengan orang dewasa. Ingat, cara dan kapasitas berpikir anak masih terbatas. Cukup, kok, dengan berkata padanya, "Kalau kamu mau sesuatu, harus minta. Jangan pakai menangis." Atau, "Coba bicara dulu sama Ayah biar Ayah tahu apa maunya Adik."
Dengan cara ini, anak jadi belajar mengungkapkan keinginan yang ada dalam dirinya. Ajarkan juga padanya untuk bisa menunda keinginan dan menahan emosinya. Katakan, "Bunda tak bisa membelikan mainannya sekarang karena tak punya uang." Tentu orang tua harus konsisten. Bila si anak masih tetap menangis, ya, orang tua jangan mengalah.
Boleh juga dengan menjanjikan untuk membelinya lain waktu kala uangnya sudah ada, namun benar-benar ditepati. Jangan sampai orang tua menjanjikan hanya agar si anak tak menangis lagi. Kalau orang tua bolak-balik cuma janji dan tak pernah ditepati, lama-lama anak tidak percaya lagi pada orang tuanya.
Ada baiknya bila orang tua agak mengabaikan pada saat anak mulai menangis. Misalnya, pura-pura tak melihat sambil membaca buku. Bila tangisnya malah mengeras, tetaplah cuek . Toh, nanti tangisnya akan berhenti jua. Baru setelah itu orang tua mendekatinya dan tanyakan, "Kamu mau apa, sih?" Dengan cara ini, anak akan belajar bahwa dengan menangis, ia tak memperoleh apa-apa dan kemauannya tidak dituruti.
Untuk menghentikan tangisnya, cobalah alihkan perhatian anak. Misalnya, bujuk si kecil, "Ih, lihat, deh, gambar di buku ini bagus. Yuk, kita baca sama-sama.
Hindari Pelabelan Negatif
Cengeng tidak bisa hilang dengan sendirinya harus dilatih. Satu hal yang harus diingat, janganlah memberi label cengeng, nangisan dan lain sebagainya. Karena menyebabkan anak cencerung apatis. Bagi si anak sendiri, karena sudah diberi cap atau label seperti itu, akhirnya ia menjadi apatis. "Memang aku dianggap cengeng, ya, sudah mau apa lagi?" Ia pun malas untuk mengubah perilakunya. Baginya, toh, cap itu sudah terlanjur menempel pada dirinya dan percuma saja mengubahnya. 
Di sisi lain, jangan pernah lupa untuk sering memuji anak kala ia menunjukkan tingkah laku yang manis dan terpuji. Misalnya, kala ia mau bicara untuk mengungkapkan apa yang diinginkannya. Namun pujian tersebut hendaknya juga diberikan pada perilaku baik lainnya. Dengan demikian, tingkah laku yang baik itu dapat menguat dan bisa meng-counter tingkah laku cengengnya.
Dengan kata lain, berilah perhatian kepada setiap perilaku baik yang dilakukan anak. Jangan hanya kala si anak menangis baru orang tua memberinya perhatian. 
The Last Important, Do’akan kebaikan bagi anak. Para orang tua semestinya menyadari bahwa mereka tidak boleh semata bersandar pada hasil usaha mereka. Mohonlah kepada Allah subahanahu wa Ta’ala kebaikan bagi anak-anak kita, dengan kata lain do’akan mereka! Do’a adalah salah satu bentuk tawakkal yang “ajaib”. 
 
sumber : http://muslimahbelajar.wordpress.com/2010/05/12/menyikapi-si-cengeng/
http://aipirdoz.blogspot.com/2011/04/mengatasi-anak-cengeng.html
http://www.ibudanbalita.com/, http://www.tabloidnova.com/Nova
Read More..

Meningkatkan Minat Belajar Anak

Minat atau motivasi belajar anak bisa berbeda-beda. Ada yang termotivasi karena ingin dibelikan mobil-mobilan baru, sepeda baru dan lain sebagainya. Meningkatkan minat belajar anak harus memakai tehnik agar anak tidak merasa dieksplorasi. 
Cara sederhana dalam meningkatkan minat belajar anak adalah kenali hal-hal apa yg disukai oleh anak dan ajak dia melakukan hal tersebut. Padukan hal-hal yang disukai dengan menambahkan pendidikan di dalam nya. Niscaya minat belajarpun meningkat. Kuncinya adalah mengetahui apa yg dapat membuat anak tertarik dan ingin belajar. Bagi anak usia delapan tahun kebawah, belajar harus berangkat dari minat si anak itu sendiri.
Sebenarnya sifat dasar anak adalah memiliki rasa ingin tahu. Selalu belajar. Hal tersebut dapat kita lihat saat bayi belajar berdiri. Seringnya terjatuh tidak membuatnya lantas berhenti belajar. Sayangnya, lanjut dia, ketika anak menginjak usia empat tahunan, banyak terjadi intervensi orang dewasa, dalam hal ini orang tua. Dengan begitu minat belajar anak sesungguhnya itu menjadi terintervensi. Anak belajar karena kewajiban dan dorongan dari orang tua. Sehingga mengakibatkan anak jadi tertekan.
Prinsip dasar belajar anak-anak haruslah menyenangkan . Karena dengan belajar menyenangkan akan menumbuhkan emosional yg positif. Dalam proses belajar, anak harus diposisikan sebagai subjek dan bukan objek. Sebaiknya anak belajar atas inisiatif diri sendiri.
Bila dalam proses belajar, si anak menjadi objek, maka yang banyak melakukan intervensi adalah pendidik. Si anak dijadikan robot dan terlalu banyak diarahkan oleh pendidik. Hasilnya akan membuat anak menjadi malas belajar, belajar tidak efektif.
Dalam sistem belajar, anak harus ikut terlibat dlm proses pembelajaran. Salah satu caranya mungkin sebaiknya dlm satu kelas jangan sampai terlalu banyak siswa. Problem yang akan terjadi akan ada anak-anak yg merasa tidak diperhatikan. Dengan begitu minat belajarnya karena keterpaksaan.
Solusinya, guru dituntut punya kompetensi dengan kondisi-kondisi yg terjadi sekarang ini. Guru perlu memahami bahwa anak didiknya adalah subjek.
Disarankan dalam proses belajar perlu dikembangkan metode pelajaran tematik yg aplikatif. Ada pembahasan-pembahasan atas sebuah masalah. Misalkan soal banjir, mungkin saja dari pembahasan itu mundul ide-ide yg luar biasa dan cemerlang dari anak. 
Belajar tidak hanya berbasis teori. Teori dibutuhkan dalam rangka mengejar standardisasi kurikulum. Tapi untuk mencapai tujuan-tujuan itu, perlu ada media belajarnya yg menyenangkan bagi anak,
 Sebisa mungkin orang tua memberikan reward atau penghargaan kepada anak atas berbagai prestasi yg dilakukan. Sebaliknya sedapat  mungkin menghindari bentuk punishment atau hukuman. Sebab, hukuman yg kelewat batas akan membuat harga diri anak down atau turun.
Jenjang pendidikan anak masih jauh dan panjang, hasil sebuah proses belajar tidak bisa diukur oleh satu hari, satu minggu atau satu bulan. Tapi merupakan proses berkelanjutan. Untuk itu orang tua perlu memberikan reward dan dorongan.
 Untuk mendorong minat belajar anak, kita perlu meningkatkan rasa percaya diri anak. Sebagai contoh : bila anak mendapat nilai matematika jelek, orang tua dapat mendorongnya dengan mengatakan: “Oh iya anak bunda dapat nilai kurang bagus ya? Tidak apa-apa kok, asal kita mau berusaha memperbaikinya, nilai bagus akan kita peroleh".
Seorang anak tidak mungkin dapat menguasai semua mata pelajaran. Mungkin ada anak yg unggul disatu pelajaran namun lemah di pelajaran lain. Kemudian orang tua justru memberikan anak les dipelajaran yg lemah tadi. Sedangkan pelajaran yg unggul justru dilupakan. Sebagai contoh anak unggul dalam kinestetiknya, seperti dia unggul dalam sepakbola, namun lemah di matematika. Ditinjau dari sudut perkembangan anak , apa yg dilakukan orang tua tadi bisa dikatakan keliru . Kenapa bukan keunggulan si anak tadi yg diasah dan dikembangkan terus. Nah, yang kurang itu hanya sebagai pelengkap.
Jika malah yg kurang nilainya didorong terus dan dipaksakan menyebabkan anak menjadi tertekan. Akhirnya, anak menjadi stress dan keunggulannya pun akhirnya hilang. 
Hal terpenting adalah memberikan kasih sayang kepada anak. Terkadang anak berbuat baik, orangtua tidak memberikan reward karena hal itu dianggap biasa saja, tapi manakala si anak berbuat tidak baik, maka orang tua memberikan reaksi luar biasa dengan memberikan punishment.orang tua harus mengubah paradigma terhadap anaknya. Bahwa anak berbuat baik itu bukanlah hal yg biasa, tapi merupakan suatu hal yg luar biasa.
referensi data : http://fandi4tarakan.wordpress.com/2009/12/29/ 
interview : Danang Sasongko
Read More..

Wednesday, November 30, 2011

Bila Si Kecil Murung

Murung tidak terjadi tiba-tiba. perubahan emosi anak ini ada penyebabnya. biasanya kecenderungan murung mulai tampak pada anak di atas usia lima tahun. Kurang dari usia tersebut, anak cenderung kurang bisa mengendalikan emosi. Pada usia lima tahun mereka sudah bisa merasakan keinginan yang tak terpenuhi dan sudah mampu mengekspresikan rasa kecewa, sedih, ngambek atau marah.
Selain itu, faktor fisik seperti kelelahan, kurang sehat, membuat anak malas atau enggan melakukan apa saja. Faktor lingkungan yang tidak disukai anak pun ikut membuat anak uring-uringan. Begitu pun dengan pola asuh orangtua atau keluarga juga bisa mnejadi penyebab anak murung.
Yang perlu dicermati adalah sebab murung tersebut. Dengan begitu, orangtua bisa mengendalikan suasana hati anak agar menjadi ceria kembali. Jika si anak murung, orantua sebaiknya tidak langsung menegurnya. Memaksanya menceritakan keluhannya. Perlu diberi waktu menenangkan diri agar merasa nyaman. 
Saat anak sudah mulai tenang, orangtua bisa mendekatinya. Namun hendaknya tidak bertanya langsung ke pokok masalah tetapi lebih bijak jika berbasa basi dulu.
Tips Bicara Pada Anak:
- Gunakan bahas sederhana.
- Gunakan bahasa yang jelas, agar anak tidak salah tafsir.
- Melibatkan anak dalam komunikasi. Mintalah umpan balik.
- Upayakan sentuhan fisik.
- Menjaga intonasi suara.
Kepada anak yang sering malas melakukan kegiatan karena sering murung, hal ini jangan dibiarkan karena akan berakibat tidak baik nagi perkembangan mentalnya. Kedepannya anak seperti ini akan mudah temperamental. Orangtua harus mengubah dulu sikapnya. Sebab orangtua yang memiliki suasana hati tidak menentu, anak-anaknya pun akan cenderung serupa. 
Disarikan dari Majalah GONTOR Edisi 02 Th 2008.
Read More..

Monday, November 28, 2011

Anak Gemar Ibadah


Merangsang anak untuk gemar ibadah sejak dini merupakan salah satu upaya menanamkan cinta ibadah seawal mungkin. Salah satu contohnya saat mengingatkan untuk sholat, sebaiknya tidak mengingatkan dengan ancaman seperti “Ayo sholat, nanti klo g sholat masuk neraka lho” apa yang akan diingat oleh anak saat mendengarkan adzan bukan Allah-nya, tapi Neraka. Akan lebih baik jika diingatkan “Nak, ayo sholat biar nanti masuk syurga, disana kamu akan mendapatkan semua apa yang kamu tidak punya bahkan diluar dari apa yang kamu bayangkan, semuanya khusus untukmu”, sehingga anak akan lebih termotivasi.
Memberikan pemikiran yang logis juga baik, misalkan saat mengingatkan anak untuk ibadah, “bukan bunda yang nyuruh, tapi yang mempunyai ananda yang memerintahkan, ini lihat ayatnya..” atau mungkin saat mengingatkan anak untuk lebih bersikap sopan dengan orangtua “nak, tidak boleh bilang ‘Ah’ pada orangtua, tapi Allah tidak mempernankan, lihat ayat ini…..”. Mengingatkan anak dengan pemikiran yang logis dengan Al-Qur’an, memperkenal kepada anak siapa pemilik dirinya yang sesungguhnya, mengingatkan bahwa dia ada yang selalu mengawasi, menurut saya itu hal-hal yang sangat bagus untuk pendidikan akhlak anak.

Mengikat anak dengan Al-Qur’an
Begitu kata bu ustadzah, tentunya bukan mengikat secara pengertian harfiah, namun mengikatnya agar tidak melenceng dari ajaran Allah.
Buat calon-calon bunda, termasuk saya, tentunya mulai sekarang kita harus belajar untuk gemar beribadah, tidak hanya bisa saja.. ^^ Memperbaiki diri dan memperbanyak ilmu untuk anak kita nanti… Semangat!
sumber http://lifanurlifa13.wordpress.com dengan sedikit penambahan
Read More..

Monday, November 21, 2011

Agar Anak Gemar Membaca


Anak cenderung memilih kegiatan yang menyenangkan dan menggembirakan dibandingkan membaca, padahal membaca adalah kegiatan yang dapat menambah wawasan dan ilmu pada anak nantinya. Tetapi jika Anda dapat menciptakan suasana yang menyenangkan dan menggembirakan maka mereka akan bersemangat untuk memulai kegiatan tersebut.
Membaca sendiri secara tersurat ditegaskan dalam Al-Qur'an. Di ayat yang pertama kali diturunkan pada Nabi Muhammad. Perintah baca yang bermakna lebih luas tentunya. 
Penulis buku anak terkenal, Peter Corey, menyarankan salah satu kunci sukses agar suasana kegiatan membaca dapat menyenangkan adalah bacalah bersama-sama dengan anak Anda. Membaca bersama si kecil adalah kegiatan yang positif dan edukatif, karena kegiatan tersebut dapat meningkatkan minat baca anak Anda.
Seperti yang dikutip dari femalefirst, Peter Corey juga memberikan tips lainnya untuk meningkatkan minat baca untuk Anak Anda, yaitu:
1. Kegiatan membaca bersama lebih efektif bila dilakukan 10-15 menit setiap harinya. Bila Anda tidak menemukan waktu yang tepat selama satu hari penuh, maka manfaatkanlah waktu sebelum tidur untuk membaca bersama buah hati Anda.
2. Membaca merupakan kegiatan yang menyenangkan, jadi hindari memaksakan anak untuk membaca saat si kecil lelah dikarenakan banyak kegiatan. Biarkan ia memiliki inisiatif untuk memulai membaca.
3. Setelah kegiatan membaca selesai, sebaiknya gunakan waktu untuk si kecil memberikan pendapat, kesan, ide tentang cerita tersebut dan dengarkan apa yang diutarakannya kemudian diskusikan. Dengan begitu Anda dapat mengetahui apakah ia mengerti isi buku yang ia baca.
4. Gunakanlah fasilitas yang mendukung cerita, seperti nikmati setiap gambar pada buku cerita tersebut. Anak akan lebih mudah mendapatkan pemahaman dengan bantuan gambar.
5. Selalu memilih cerita yang sederhana, lucu dan menarik untuk anak. Bila perlu pilihlah buku cerita yang menjadi tema kesukaannya.
6. Tema cerita buku anak-anak sangat beragam. Jadi belilah buku tersebut di toko buku bagian khusus anak agar dapat menemukan tema cerita yang menarik.
7. Sederhanakanlah penggunaan kata-kata yang Anda ucapkan. Hindari membacakan kalimat yang panjang dan sulit dimengeri anak. Bila anak Anda tidak paham dengan alur cerita, maka gunakan bahasa sehari-hari yang lebih mudah dimengerti.
8. Jangan ragu untuk menilai buku dari sampul dan siapa penulisnya. Ini dapat menolong Anda untuk memutuskan apakah buku tersebut layak Anda beli.
9. Jangan khawatir jika anak Anda ingin membaca buku yang sama setiap saat. Anak-anak biasanya menikmati kegiatan pengulangan karena dapat membantu mereka untuk lebih memahami cerita.
10. Berikanlah pujian kepada anak Anda yang telah berusaha untuk membaca. Biarkan ia tahu apa kesalahannya saat membaca. Dengan begitu, ia akan semakin sempurna dalam membaca.
sumber : www.lollipop.com dengan penambahan.
Read More..

Copy Paste Rasulullah Mendidk Anak


Dalam Al-Quran hampir semua ayat yang berbicara tentang pendidikan anak, yang berperan adalah ayah. Kedua, yang membentuk kepribadiannya juga adalah ibu; ketiga, apa yang dibacanya (ilmu); dan keempat, lingkungan. Kalau ini baik, anak bisa baik, juga sebaliknya. Begitu pula baik-buruk kadar pendidikan kita. 
Salah satu amal yang tidak pernah terputus pahalanya sekalipun kita telah meninggalkan dunia ini adalah anak yang shaleh. Doa anak yang shaleh merupakan salah satu doa yang insya Allah pasti terkabul. Karenanya, orangtua harus mendidik anak dengan sebaik-baiknya. Jika tidak, anak akan tumbuh menjadi seorang yang berkepribadian rusak dan hancur yang pada gilirannya akan merugikan orangtua itu sendiri. Sesungguhnya memang tidak mudah memikul beban untuk membesarkan anak hingga menjadi pribadi yang kita harapkan dapat meraih sukses dunia dan akhirat. Semua butuh kesabaran, kerja keras, keikhlasan, dan masih banyak lagi.
Tanpa bermaksud menyederhanakan, berikut beberapa tips yang diaplikasikan oleh orangtua yang disarikan dari tata cara mendidik anak ala Rasulullah Saw.
1. Menanamkan Nilai-nilai Ketauhidan
Mengajarkan tauhid kepada anak, mengesakan Allah dalam hal beribadah kepada-Nya, menjadikannya lebih mencintai Allah daripada selain-Nya, tidak ada yang ditakutinya kecuali Allah. Selain itu, orangtua harus menekankan bahwa setiap langkah manusia selalu dalam pengawasan Allah Swt. dan penerapan konsep tersebut adalah dengan berusaha menaati peraturan dan menjauhi larangan-Nya. Terlebih dahulu, orangtua selaku guru (pertama) bagi anak-anaknya harus mampu menyesuaikan tingkah lakunya dengan nilai-nilai yang diajarkan dalam Islam. Ini adalah pendidikan yang paling urgen di atas hal-hal penting lainnya.
2. Menjadi Sahabat dan Mendidik dengan Keteladanan
Setiap anak akan belajar dari lingkungannya dan dalam hal ini lingkungan keluarga akan sangat berpengaruh pada perkembangan kepribadiannya. Orang-orang di sekelilingnya akan menjadi model dan contoh dalam bersikap. Sudah selayaknyalah orangtua memberi keteladanan kepada anak-anaknya. Para orangtua sebaiknya memberikan contoh yang baik sesuai dengan nasihat dan ucapannya kepada para anaknya. Akan sangat lucu jika yang disampaikan orangtua kepada anak-anaknya ternyata tidak dilakukan oleh orangtua itu sendiri. Dalam Islam, keteladanan dari orangtua sangat menentukan terlebih di zaman sekarang media tontonan tidak dapat diharapkan menjadi contoh yang baik bagi pembentukan akhlak anak-anak muslim.
3. Mendidik dengan Kebiasaan
Suatu kebaikan harus dimulai dengan pembiasaan. Anak harus dibiasakan bangun pagi agar mereka gemar melaksanakan shalat Subuh. Anak harus dibiasakan ke masjid agar mereka gemar melakukan berbagai ritual ibadah di masjid. Pembiasaan itu harus dimulai sejak dini, bahkan pembiasaan membaca Al-Quran pun bisa dimulai sejak dalam kandungan. Pembiasaan shalat pada anak harus sudah dimulai sejak anak berumur tujuh tahun.
4. Menumbuhkan Rasa Percaya Diri Anak
Sebagai upaya menumbuhkan rasa percaya diri anak, Rasulullah Saw. menggunakan beberapa cara berikut. Saat sedang berpuasa, Rasulullah mengajak anak-anak bermain sehingga siang yang panjang terasa cepat. Anak-anak akan menyongsong waktu berbuka dengan gembira. Hal ini juga membuat anak memiliki kepercayaan diri sehingga sanggup berpuasa sehari penuh. Sering membawa anak-anak ke majelis orang dewasa, resepsi, atau bersilaturahim ke rumah saudara sebagai upaya menumbuhkan kepercayaan diri sosialnya. Mengajari Al-Quran dan As-Sunnah serta menceritakan sirah nabi untuk meningkatkan kepercayaan diri ilmiahnya. Menanamkan kebiasaan berjual-beli untuk meningkatkan kepercayaan diri anak terkait ekonomi dan bisnis. Di samping itu, sejak dini anak akan terlatih mandiri secara ekonomi.
5. Memotivasinya Anak Berbuat Baik
Seorang anak, meski kecil, juga terdiri dari jasad dan hati. Mereka dilahirkan dalam keadaan bersih dan suci sehingga hatinya yang putih dan lembut itu pun akan mudah tersentuh dengan kata-kata yang hikmah. Anak-anak, terutama pada usia emas (golden age), cenderung lebih mudah tersentuh oleh motivasi ketimbang ancaman. Karenanya, hendaknya orangtua tidak mengandalkan ancaman untuk mendidik buah hati. Ketimbang mengancam, lebih baik orangtua memotivasi anak dengan mengatakan bahwa kebaikan akan mendapat balasan surga dengan segala kenikmatannya. Itu pulalah yang dicontohkan oleh Rasulullah kepada kita ketika beliau mendidik para sahabat.
6. Sediakan Waktu untuk Makan Bersama Anak
Rasulullah Saw. senantiasa menyempatkan untuk makan bersama anak-anak. Cara tersebut akan mempererat keterikatan batin antara orangtua dan anaknya. Dengan begitu kita dapat meluruskan kembali berbagai kekeliruan yang mereka lakukan melalui dialog terbuka dan diskusi. Alangkah baiknya jika ibu dan bapak berkumpul dengan anak-anak ketika makan bersama sehingga mereka merasakan pentingnya peran kedua orangtuanya. Hal ini juga dapat mempermudah meresapnya segala nasihat tentang perilaku, keimanan, atau pendidikan.
7. Mendidik dengan Reward/Hadiah
Memberi hadiah adalah salah satu penghargaan yang dapat melunakkan hati anak sehingga mereka akan bersimpati kepada kita dan akhirnya mau melaksanakan nasihat yang kita berikan. Namun perlu diingat, tidak semua perbuatan baik anak harus dihargai dengan materi. Lakukan reward yang bervariasi, bisa dengan pujian, ciuman, belaian, uang, dan lain-lain.
8. Memilih Sekolah yang Islami
Saat anak menginjak usia sekolah, orangtua berperan dalam memilihkan sekolah, mengajarkan Al-Quran, mengembangkan pola pikir anak, memberikan data dan ilmu semaksimal mungkin. Meski anak sudah mulai sekolah (mendapatkan ilmu di sekolah), orangtua hendaklah selalu belajar tentang pendidikan anak karena semakin bertambah usia anak, maka akan semakin kompleks pula problem (pendidikan anak) yang harus kita hadapi.
9. Mendidik dengan Hukuman
Cara ini boleh dilakukan jika cara-cara di atas tidak berhasil. Memang di dalam Islam, menghukum diperbolehkan selama tidak berlebihan seperti sampai menyebabkan luka. Hukuman tersebut usahakan menimbulkan efek jera kepada anak agar ia tidak mengulangi perbuatannya. Akan tetapi harus diperhatikan adab-adabnya, jangan sampai berlebihan yang akhirnya akan membuat anak menjadi dendam.
10. Memahami Keadaan Anak Secara Baik dan Menggunakan Metode yang Tepat
Setiap anak memiliki karakter dan pribadi yang berbeda walaupun berasal dari orangtua yang sama. Cari metode yang tepat dan jitu sehingga anak dapat diarahkan dengan lebih mudah.
 Dari berbagai sumber
Read More..